Seorang anak benama Rafi, mengeluh kepada ayahnya yang sedang makan di ruang makan, “Ayah, guruku tidak adil, masak si Budi kok yang ditunjuk jadi ketua kelas. Padahal aku adalah anak yang terpintar di kelas, aku juga sering membantu Pak guru. Padahal aku yakin akan menjadi ketua kelas.” keluh Rafi sambil cemberut.
”Begitu ya?” tanya sang ayah, sambil menyelesaikan makannya. ”Rafi anakku, lihatlah sup buatan Ibumu ini, menurutmu apa yang membuat sup ini enak?” tanya ayah.
”Hm....pastinya karena banyak sayurnya, ada dagingnya juga, juga penampilannya yang menggugah selera.” jawab sang anak.
”Jawabanmu benar Rafi, akan tetapi itu bukan faktor yang paling utama yang menjadikan sup ini menjadi enak.” kata ayah.
”lalu apa Ayah?” tanya Rafi penasaran.
”Garam! Tanpa adanya garam semua sayuran, daging, kuah akan terasa hambar. Lalu apakah engkau melihat wujud garam dalam sup ini?” tanya ayah lagi.
”Ya nggak dong Ayah, kan sudah larut dalap sup itu” jawab Rafi.
”Kamu benar, garam dalam sup ini tidak terlihat sama sekali, akan tetapi semua orang mengakui akan keberadaan, dan kemanfaatan dalam sup ini, bahkan di semua masakan, tanpa harus terlihat.” kata ayah sambil menatap mata Rafi.
”Begitu juga dalam kehidupan ini Rafi, kita tidak harus tampak, menonjol, populer di depan banyak orang, akan tetapi yang paling utama adalah ketulusan kita dalam berbuat, beramal, membantu. Jadi, menjadi ketua kelas bukanlah faktor utama, walaupun itu juga bermanfaat, akan tetapi ketulusan hatimu dalam berbuat amal itu yang akan diakui dan dikenang selamanya di hati teman-temanmu. Maka jadilah engkau seperti garam.”
***
Sahabatku, ada perasaan sedih ketika para caleg-caleg saling bersaing, saling menghujat, bahkan saling menjatuhkan di internal partainya masing-masing. Kalau mereka tulus berjuang demi rakyat, kenapa harus ngotot menjadi pemimpin sehingga menghalalkan segala cara. Bahkan sampai memfitnah orang lain. Sungguh menyedikan.
Ketika menjadi pemimpin, memang perjuangan kita menjadi lebih efektif, akan tetapi ketulusan perjuangan adalah faktor utama dalam merubah bangsa ini menjadi lebih baik, tidak harus menjadi pemimpin. Jadi, janganlah terlalu ngotot menjadi pemimpin, bahkan sampai mempertaruhkan segala hartanya.
Jadilah seperti besi beton dalam suatu bangunan, dia tidak terlihat sama sekali, akan tetapi semua orang menyadari bahwa besi betonlah yang menyebabkan suatu bangunan berdiri dengan tegap dan kokoh.
Wahai para caleg, sudah tuluskah anda memperjuangkan bangsa ini menjadi lebih baik?

Alkisah ada seseorang bernama Abdul mengeluh kepada Pak Kyai, orang yang dianggap bijaksana di kampungnya. Ia mengeluh karena rumahnya yang sangat sempit. Ia bersama keluarganya tidak nyaman tinggal dirumahnya.
Kemudian Pak Kyai itu bertanya, "Baiklah, insya Allah saya bisa mengatasi permasalahan kamu, akan tetapi ada dua syaratnya, yang pertama ikuti segala perintah saya, yang kedua jangan bertanya dan protes terhadap apa yang saya perintahkan. Bagaimana sepakat?" Sejenak Abdul berfikir, "hmm.....baiklah Pak Kyai, saya sepakat!. Apa perintah Pak Kyai?"
Kemudian Pak Kyai kebelakang mengambil seekor bebek peliharaannya, "nih, pelihara bebek ini di rumahmu!" perintahnya. "Pak Kyai bercanda ya? Rumah saya kan sempit, kok malah ditambah memelihara bebek sih?" protes Abdul. "Lupa ya syarat kedua perjanjian kita? Jangan tanya dan protes! Lakukan! Datanglah 3 hari lagi kemari!" tegas Pak Kyai. Dengan berat hati Abdul pun menjalankan perintah Pak Kyai.
Tiga hari kemudian Abdul datang ke rumah Pak Kyai, "Bagaimana Abdul?" tanya Pak Kyai. "Sudah jelas, semakin terasa sempit." keluh Abdul. "Baiklah, sekarang perintah kedua, pelihara kambing ini juga dirumahmu" perintah Pak Kyai sambil membawa kambing peliharaannya.. "Tapi Pak Kyai........?", "Jangan tanya dan protes, lakukan saja! Datang kemari lagi setelah 3 hari" Pak Kyai mengingatkan. Abdulpun kembali dengan membawa seekor kambing, dia menyesal karena melakukan kesepakatan dengan Pak Kyai.
Tiga hari kemudian, Abdul datang kerumah Pak Kyai. "Bagaimana?", dengan wajah cemberut Abdul berkata, "Pak Kyai menyiksaku ya? Keluargaku jadi tidak betah dirumah!". "Sabar Abdul, Baiklah bawa kemari lagi bebek dan kambingku! Kemudian datang kemari lagi setelah tiga hari."
Tiga hari kemudian, "Bagaimana Abdul?" tanya Pak Kyai, "Sekarang jadi tenang dan nyaman Pak Kyai, seolah-olah rumah saya jadi luas karena tidak ada gangguan bebek dan kambing.".
"Begitulah Abdul, saya menilai rumahmu itu sudah cukup luas, akan tetapi pandangan dan hatimu sungguhlah sempit. Hari ini kamu merasa rumahmu begitu luas, karena engkau merasakan bagaimana kondisi ketika rumahmu lebih sempit. Lihatlah tetangga-tetangga kita yang memiliki rumah yang jauh lebih sempit dari rumahmu. Dan cobalah bayangkan ketika kita dalam kondisi seperti mereka. Maka akan timbul rasa syukur dalam hatimu. Dan sebaliknya ketika engkau melihat tetangga kita yang rumahnya lebih luas daripada rumahmu, maka akan timbul rasa sempit dalam hatimu. Jadi, semua tergantung pada cara pandang kita. Maka, ubahlah segala pandanganmu menjadi pandangan syukur, maka rumah, dan hatimu akan terasa luas, Insya Allah."
***
Sahabatku, saya jadi teringat ceramahnya Ustadz Zaenudin,MZ. Beliau bercerita (maaf agak di modifikasi), ada seorang pemuda yang sedang menggayuh sepeda tua berkata dalam hati "Alhamdulillah, walaupun saya tidak memiliki sepeda motor, saya masih memiliki sepeda ini, sedang tetangga saya masih berjalan kaki.",
Dilain tempat tetangga yang berjalan kaki dalam hatinya berkata, "Alhamdulillah, saya masih bisa berjalan kaki, sedang tetangga saya tidak memiliki kaki karena kecelakaan, jadi harus memakai kursi roda."
Dilain tempat, tetangga yang menggunakan kursi roda berkata dalam hati, "Alhamdulillah saya masih bisa berjalan walau menggunakan kursi roda, sedang tetangga saya hanya bisa berbaring di tempat tidur karena lumpuh."
Dilain tempat, tetangga yang lumpuh berkata dalam hati, "Alhamdulillah saya masih bisa beribadah dan bertobat, sedang tetangga saya mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah, Na'udzubillahimindzalik...."
Yakinlah sahabatku, ketika kita memandang segalanya dengan pandangan syukur, hidup ini akan terasa lebih nikmat dan indah.
Suatu ketika saya bertemu dengan seorang nenek. Dia, yang yang ringkih dengan
kebaya bermotif kembang itu, tampak sedang memegang sebuah kantong plastik.
Hitam warnanya, dan tampak lusuh. Saya duduk disebelahnya, di atas sebuah
metromini yang menuju ke stasiun KA.
Dia sangat tua, tubuhnya membungkuk, dan kersik di matanya tampak jelas. Matanya
selalu berair, keriputnya, mirip dengan aliran sungai. Kelok-berkelok. Hmm...dia
tampak tersenyum pada saya. Sayapun balas tersenyum. Dia bertanya, mau kemana.
Saya pun menjawab mau kerja, sambil bertanya, apa isi plastik yang dipegangnya.
Minyak goreng, jawabnya. Ah, rupanya, dia baru saja mendapat jatah pembagian
sembako. Pantas, dia tampak letih. Mungkin sudah seharian dia mengantri untuk
mendapatkan minyak itu. Tanpa ditanya, dia kemudian bercerita, bahwa minyak itu,
akan dipakai untuk mengoreng tepung buat cucunya. Di saat sore, itulah yang bisa
dia berikan buat cucunya.
Dia berkata, cucunya sangat senang kalau digorengkan tepung. Sebab, dia tak
punya banyak uang untuk membelikan yang lain selain gorengan tepung buatannya.
Itupun, tak bisa setiap hari disajikan. Karena, tak setiap hari dia bisa
mendapatkan minyak dan tepung gratis.
Degh. Saya terharu. Saya membayangkan betapa rasa itu begitu indah. Seorang
nenek yang rela berpanas-panas untuk memberikan apa yang terbaik buat cucunya.
Sang nenek, memberikan saya hikmah yang dalam sekali. Saya teringat pada Ibu.
Allah memang maha bijak. Sang nenek hadir untuk menegur saya.
Sudah beberapa saat waktu sebelumnya, saya sering melupakan Ibu. Seringkali
makanan yang disajikannya, saya lupakan begitu saja. Mungkin, karena saya yang
terlalu sok sibuk dengan semua urusan kerja. Sering saat pulang ke rumah, saya
menemukan nasi goreng yang masih tersaji di meja, yang belum saya sentuh sejak
pagi.
Sering juga saya tak sempat merasakan masakan Ibu di rumah saat kembali, karena
telah makan di tempat lain. Saya sedih, saat membayangkan itu semua. Dan Ibu pun
sering mengeluh dengan hal ini. Saya merasa bersalah sekali. Saya bisa rasakan,
Ibu pasti memberikan harapan yang banyak untuk semua yang telah dimasaknya buat
saya. Tentu, saat memasukkan bumbu-bumbu, dia juga memasukkan kasih dan cintanya
buat saya.
Dia pasti juga akan menambahkan doa-doa dan keinginan yang terbaik buat saya.
Dia pasti, mengolah semua masakan itu, mengaduk, mencampur, dan menguleni, sama
seperti dia merawat dan mengasihi saya. Menyentuh dengan lembut, mengelus,
seperti dia mengelus kepala saya di waktu kecil.
***
Metromini telah sampai. Setelah mengucap salam pada nenek itu, saya pun turun.
Namun, saya punya punya keinginan hari itu. Mulai esok hari, saya akan menyantap
semua yang Ibu berikan buat saya. Apapun yang diberikannya. Karena saya yakin,
itulah bentuk ungkapan rasa cinta saya padanya. Saya percaya, itulah yang dapat
saya berikan sebagai penghargaan buatnya.
Saya berharap, tak akan ada lagi makanan yang tersisa. Saya ingin membahagiakan
Ibu. Terima kasih Nek
Suatu ketika seorang Indian muda, mendatangi tenda ayahnya. Di dalam sana, duduk
seorang tua, dengan pipa panjang yang mengepulkan asap. Matanya terpejam, tampak
sedang bersemadi. Hening. "Ayah, bolehkah aku ikut berburu besok pagi?" tanya
Indian muda itu memecahkan kesunyian disana. Mata sang Ayah membuka perlahan,
sorot matanya tajam, memandang ke arah anak paling disayanginya itu. Kepala suku
itu hanya diam.
"Ya Ayah, bolehkah aku ikut berburu besok? Lihat, aku sudah mengasah pisauku.
Kini semuanya tajam dan berkilat." Tangan si kecil merogoh sesuatu dari balik
kantung kulitnya. Sang Ayah masih diam mendengarkan. "Aku juga sudah membuat
panah-panah untuk bekalku berburu. Ini, lihatlah Ayah, semuanya pasti tajam.
Busurku pun telah kurentangkan agar lentur. Pasti aku akan menjadi Indian
pemberani yang hebat seperti Ayah. Ijinkan aku ikut Ayah." Terdengar permintaan
merengek dari si kecil.
Suasana masih tetap senyap. Keduanya saling pandang. Terdengar suara berat sang
Ayah, "Apakah kamu sudah berani untuk berburu? "Ya!" segera saya terdengar
jawaban singkat dari si kecil. "Dengan pisau dan panahku, aku akan menjadi yang
paling hebat." Sang Ayah tersenyum, "Baiklah, kamu boleh ikut besok, tapi ingat,
kamu harus berjalan di depan pasukan kita. Mengerti?" Sang Indian muda
mengangguk.
Keesokan hari, pasukan Indian telah siap di pinggir hutan. Kepala suku, dan
Indian muda, berdiri paling depan. "Hari ini anakku yang akan memimpin perburuan
kita. Biarkan dia berjalan di depan." Indian muda itu tampak gagah. Ada beberapa
pisau yang terselip di pinggang. Panah dan busur, tampak melintang penuh di
punggungnya. Ini adalah perburuan pertamanya. Si kecil berteriak nyaring, "ayo
kita berangkat."
Mereka mulai memasuki hutan. Pohon-pohon semakin rapat, dan semak semakin
meninggi. Sinar matahari pun tak leluasa menyinari lebatnya hutan. Mulai
terdengar suara-suara dari binatang yang ada disana. Indian kecil yang tadi
melangkah dengan gagah, mulai berjalan hati-hati. Parasnya cemas dan takut.
Wajahnya sesekali menengok ke belakang, ke arah sang Ayah. Linglung, dan ngeri.
Tiba-tiba terdengar beberapa suara harimau mengaum. "Ayah...!!" teriak si kecil.
Tangannya menutup wajah, dan ia berusaha lari ke belakang. Sang Ayah tersenyum
melihat kelakuan anaknya, begitupun Indian lainnya.
"Kenapa? Kamu takut? Apakah pisau dan panahmu telah tumpul? Mana keberanian yang
kamu perlihatkan kemarin?" Indian muda itu terdiam. "Bukankah kamu bilang, pisau
dan panahmu dapat membuatmu berani? Kenapa kamu takut sekarang? Lihat Nak,
keberanian itu bukan berasal dari apa yang kau miliki. Tapi, keberanian itu
datang dari sini, dari jiwamu, dari dalam dadamu." Tangan Kepala Suku menunjuk
ke arah dada si kecil.
"Kalau kamu masih mau jadi Indian pemberani, teruskan langkahmu. Tapi jika, di
dalam dirimu masih ada jiwa penakut, ikuti langkah kakiku." Indian muda itu
masih terdiam. "Setajam apapun pisau dan panah yang kau punya, tak akan
membuatmu berani kalau jiwamu masih penakut. Sekuat apapun busur telah kau
rentangkan, tak akan membuatmu gagah jika jiwa pengecut lebih banyak berada di
dalam dirimu." "...Aauummmm." Tiba-tiba terdengar suara harimau yang mengaum
kembali. Indian muda kembali pucat. Ia memilih untuk berjalan di belakang sang
Ayah.
***
Keberanian. Apakah itu keberanian? Keberanian bukanlah rasa yang dimiliki oleh
orang yang menganggap dirinya memiliki segalanya. Keberanian juga bukan
merupakan rasa yang berasal dari sifat-sifat sombong dan takabur. Keberanian
adalah jiwa yang berasal dari dalam hati, dan bukan dari materi yang kita
miliki. Keberanian adalah sesuatu yang tersembunyi yang membuat orang tak pernah
gentar walau apapun yang dia hadapi.
Saya percaya, keberanian bukan berasal dari apa yang kita sandang atau kita
miliki. Keberanian bukan datang dari apa yang kita pamerkan atau yang kita
punyai. Tapi, teman, keberanian adalah datang dari dalam diri, dari dalam dada
kita sendiri. Keberanian adalah sesuatu yang melingkupi perasaan kita, dan
menjadi bekal dalam setiap langkah yang kita ayunkan.
Teman, mungkin saat ini kita diberikan banyak kemudahan, dan membuat kita merasa
cukup berani dalam menjalani hidup. Kita mungkin dititipkan kelebihan-kelebihan
dan membuat kita takabur bahwa semua masalah akan mampu di hadapi. Mungkin saat
ini kita kaya, rupawan, berpendidikan tinggi, dan berkedudukan bagus, tapi
apakah itu bisa menjadi jaminan bahwa kita akan selamanya dapat menjalani hidup
ini? Apakah itu akan selamanya cukup untuk menjadi bekal kita dalam "perburuan"
hidup ini?
Jadilah Indian muda yang tetap melangkah, dengan jiwa pemberani yang hadir dari
dalam hati, dan BUKAN dari pisau dan panah yang telah diasah. Jadilah Indian
muda yang tak pernah gentar mendengar suara harimau, sekeras apapun suara itu
terdengar. Jadilah Indian muda yang tetap yakin dengan pilihan keberanian yang
ia putuskan. Jangan gentar, jangan surut untuk melangkah.

Posted on Juni 22, 2009 by admin
Wah, tidak disangka. Lonjakan drastis video dan foto bugil yang saya tapilkan dalam postingan mendapat respon lonjakan pengunjung yang banyak. Tidak kurang lebih dari 900 orang telah melihat postingan foto dan video bugil serta mesum yang saya tampilkan.
Masya Allah, sungguh kebobrokan kita benar-benar menjadi hal yang sepeleh (mungkin). Menembak keyword video atau foto bugil, telanjang, bokep, porno, mesum merupakan keyword yang mudah ditebak. Mungkin saja pengunjung blog ini bingung, kok ada postingan tentang dunia bugil atau video mesum di blog ini. Atau mungkin ada yang salah alamat karena nyangkut karena niatnya pengen download video mesum juga bokep, atau lihat foto telanjang, malah nyasar diblog ini.
Yang jelas, diblog ini tidak akan menayangkan video ataupun film bokep, bugil atau foto telanjang. Pokoknya semoga orang-orang yang senang melihat gambar atau video porno semoga sadar saja. Ingat, kiamat sudah dekat. Eh iya, hampir lupa. Ingat masih banyak hal yang baik di internet ini. Silahkan baca-baca artikel keislaman yang bisa menambah keimanan diblog ini. Daripada buang-buang waktu dan uang hanya untuk nafsu syahwat semata, mending kita belajar mengoptimalkan internet menjadi hal yang berguna dan bermanfaat bagi kita tanpa harus nambah-nambahin dosa. Bener nggak pren?
Gue nggak ingin menjustifikasi kalian, sebagai orang-orang yang berdosa. Pokoknya pintu taubat akan selalu terbuka, kecuali kematian itu belum datang. Coba difikirkan lagi, seandainya loe buka situs porno, lalu download video bokep atau bugil, lihat foto telanjang tiba-tiba iler loe netesin keyboard lalu konsleting, and loe kestrum lalu mati. Waks, nggak pengen kayak gitu kan pren? :D
Yah pokoknya mari kita bersama-sama kembali kejalan yang benar aja.
Ups, bukan berarti yang punya blog ini sudah menjadi orang yang benar loh yah. Gue juga lagi pengen mendaki kebenaran dan berusaha berbuat baik, makanya nyok sama-sama jalan sama gue, biar gue ada teman untuk mendaki kearah kebenaran dan berusaha berbuat baik dalam kehidupan.
Tetap semangat, mari berbuat baik dan benar.